Yayasan Konservasi Alam Nusantara

03 December 2018

Kesepakatan COP 2

Jakarta - The Second Meeting of the Conference of the Parties to the Minamata Convention on Mercury (COP-2) atau Konvensi Minamata berlangsung di Jenewa, Swiss dari 19-23 November 2018.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berharap hasil dari pertemuan tersebut dapat mendorong dan mempercepat penerapan rencana aksi nasional pengurangan dan penghapusan merkuri. Hal ini juga bertujuan untuk mendukung upaya Indonesia demi menjadikan merkuri sebagai sejarah masa lalu.

"Hal ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menjadi bagian dari upaya internasional dalam menjadikan merkuri sebagai sejarah masa lalu (Make Mercury History),' tegas Dirjen PSLB3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/12/2018).

Dia mengatakan pemerintah Indonesia juga telah menyusun rencana aksi nasional pengurangan dan penghapusan merkuri pada 2030. Selain itu, pemerintah juga telah membentuk komite penelitian dan pemantauan merkuri.

Hal ini dilakukan untuk melindungi masyarakat dari dampak penggunaan merkuri melalui transfer teknologi pengolahan emas dan/atau alih mata pencaharian penambang PESK (Pertambangan Emas Skala Kecil).

Selain itu, pada gelaran COP-2 ini, Indonesia juga telah mengusulkan skema pendekatan transformasi sosial, ekonomi dan lingkungan hidup yang bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Hal ini merupakan kunci untuk menyukseskan target pengurangan dan penghapusan merkuri di Indonesia. Seluruh masyarakat dunia juga memiliki kesempatan yang sama dalam mendukung dan membantu tercapainya tujuan Konvensi Minamata.

Isu-isu utama yang disepakati pada COP-2 meliputi Financial Mechanism yang berhasil mengadopsi MOU dengan Governing Council Global Environment Facilities (GEF). Hasil pertemuan ini juga menyepakati Term of Reference (TOR) untuk GEF Component dan menyelesaikan pending issues pada Specific International Programme (SIP).

Selanjutnya, isu Rules of Procedure (ROP) dari Implementation and Compliance Committee (ICC) juga berhasil disepakati. Seluruh delegasi yang hadir pun menerima tawaran Pemerintah Swiss sebagai tempat sekretariat konvensi Minamata dengan kontribusi host sebesar CHF 1 juta/tahun.

Konvensi ini juga berhasil menyepakati isu pelaporan program kegiatan dan anggaran, serta menyepakati tempat penyelenggaraan Konvensi Minamata berikutnya (COP-3) yang akan dilakukan di Jenewa pada 25-29 November 2019.

Hingga pertengahan 2018, setidaknya 101 negara telah meratifikasi Konvensi Minamata. Konvensi ini melarang adanya pertambangan primer merkuri, mengatur perdagangan merkuri, membatasi hingga menghapuskan penggunaan merkuri, mengendalikan emisi dan lepasan merkuri, serta mendorong pengelolaan limbah mengandung merkuri yang ramah lingkungan.

Selain itu Organisasi PBB di bidang lingkungan hidup, yakni UN Environment menyatakan bahwa setiap tahun setidaknya 9.000 ton merkuri lepas ke atmosfer, air maupun tanah. Sumber emisi dan lepasan merkuri terbesar berasal dari kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), diikuti dengan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, produksi non-ferrous metal, dan proses produksi semen.

YKAN

Penulis

YKAN

Informasi Terkait

Perdagangan Ikan Karang Hidup Konsumsi
Populasi Margasatwa Berkurang
Penyelamatan Badak

09 November 2018

Penyelamatan Badak