24 July 2018

Pemutihan Karang

jeff yonover

Pada penghujung tahun 2016 terjadi kenaikan kerusakanan karang di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh adanya pemutihan (bleaching event) karang yang diikuti dengan infeksi penyakit dan serangan hama. Pemutihan karang terjadi karena adanya kenaikan suhu air laut yang merupakan efek dari El Nino. Saat ini menurut Peneliti Senior LIPI yang juga ahli karang ternama Indonesia, Prof. Dr. Suharsono kondisi dan status terumbu karang Indonesia memiliki kecenderungan positif atau meningkat libel baik dengan pemulihannya berada di kisaran 35 sampai 40 persen.

Kesehatan terumbu karang di Indonesia sangat ditentukan oleh dua komponen Utama yaitu komponen bentik dan komponen ikan karang. Pada artikel kali ini mari kita bahas komponen bentik terlebih dahulu. Komponen bentik sangat dipengaruhi oleh kondisi terkini tutupan karang serta tingkat resiliensinya dan kemampuan untuk beradaptasi saat mendapatkan gangguan/ tekanan. Tingkat resiliensi merupakan potensi pemulihan yaitu potensi yang dimiliki ekosistem terumbu karang untuk dapat pulih ke kondisi semula saat mendapatkan gangguan/tekanan. Untuk melihat reliansi terumbu karang dapat digunakan beberapa veriable yaitu Truf Alga, Fleshly Seaweed, tutupan pecahan (Rubble) dan Juvenile (anakan karang).

Turf alga adalah tumbuhan alga yang tumbuh berbentuk halus pada substrat, dan biasanya memiliki tinggi kurang dari 2 cm. Kehadiran turf alga dapat mengganggu pelekatan larva dan pertumbuhan karang. Karang yang kurang sehat akan lebih mudah mati karena ditutupi oleh turf alga. Karnanya semangkin tebal turf alga, maka akan semakin rendah tingkat resiliensi ataupun potensi pemulihan ekosistem terumbu karang dari kerusakan.

 Fleshy seaweed, adalah istilah untuk kelompok makro alga yang dapat dilihat oleh mata telanjang, misalnya Sargassum, Padina, dan makro alga lainnya. Pertumbuhan fleshy seaweed akan dapat mengganggu pertumbuhan karang dan dalam kompetisi ruang, fleshy seaweed lebih unggul dibandingkan karang. Karnanya Semakin tebal/padat tutupan fleshy seaweed-nya, maka akan semakin rendah tingkat resiliensi ataupun potensi pemulihan ekosistem terumbu karang dari kerusakan.

 Tutupan pecahan karang (unconsolidated rubble) dapat disebabkan oleh hempasan ombak atau penggunaan bahan peledak (bom) untuk menangkap ikan. Pecahan karang yang hancur berantakan sangat sulit untuk dapat tumbuh kembali atau bertahan hidup karena akan terbolak balik terkena arus dan gelombang (tidak stabil), sehingga pecahan karang bukan merupakan substrat yang baik untuk larva karang dapat tumbuh dan berkembang.

Dukung gerakan #sayaSIGAP dalam melestarikan Alam Indonesia yang berkelanjutan disini.

YKAN

Penulis

YKAN

Informasi Terkait

Pengembangan Kepariwisataan Berkelanjutan
TNC Teliti Calon Ibu Kota Baru

02 September 2019

TNC Teliti Calon Ibu Kota Baru

Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup G-20