01 August 2018

Pengelolaan Hutan Desa Kampung Merabu

tnc_15921899_preview_cropped

 

Pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus mewujudkan komitmennya untuk menciptakan hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera melalui program-program Perhutanan Sosial. Salah satu bentuk programnya untuk menekan laju deforestasi dan membuka peluang agar masyarakat dapat mengelola hutan secara berkelanjutan adalah skema Hutan Desa. Hutan Desa merupakan hutan negara yang berada di dalam wilayah suatu desa yang dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat desa tersebut secara berkelanjutan dan menjamin kelestarian lingkungan. Untuk dapat mengelola hutan desa, perlu dibentuk lembaga berdasarkan Peraturan Desa yang nantinya bertugas untuk mengelola serta mengatur perizinan hutan desa, yang disebut Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Izin yang biasa dikeluarkan diantaranya adalah Izin Usaha Pemanfaatan Kawasan (IUPK), Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan lainnya. Pengelolaan hutan desa yang optimal dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat desa, terutama dalam aspek ekonomi, secara berkelanjutan.

Kampung Merabu yang terletak di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur menjadi salah satu desa dengan komitmen yang kuat dalam menjaga dan memanfaatkan hutan desa secara lestari. Dalam upaya ini, masyarakat Kampung Merabu membentuk lembaga pengelola hutan desa yang disebut Kerima Puri yang dalam bahasa setempat berarti ‘menuju hutan yang indah’, yang disahkan berdasarkan Peraturan Kampung Merabu No. 1 tahun 2012. Kerima Puri yang saat ini dipimpin oleh Asrani, mantan kepala desa Merabu, diberi kewenangan untuk mengelola hutan desa

Tahun 2014 Kampung Merabu memperoleh izin mengelola Hutan Desa dari Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) untuk mengelola hutan desa seluas 8.245 hektar. Izin ini menjadikan Merabu sebagai kampung pertama di Kalimantan Timur yang mendapat legalisasi pemerintah untuk mengelola hutan desanya sendiri.  Berkat adanya program pengelolaan hutan desa ini, pada awal 2018 para petani Merabu berhasil memperoleh hasil panen pare dan labu sebesar 600 kilogram yang dijual ke pasar lokal di Kecamatan Kong Beng dan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Dengan berkembangnya kegiatan ekonomi sebagai hasil pengelolaan hutan desa yang optimal, Kampung Merabu mulai dikenal juga sebagai tempat untuk belajar mengenai jasa lingkungan dan ekowisata.

Pada 6 – 9 Juli 2018 lalu, Kampung Merabu mendapat kunjungan dari beberapa Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Dinas Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH),  untuk saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan hutan desa. Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Kalimantan telah mengamati beberapa LPHD di Kalimantan dan memutuskan Kampung Merabu sebagai tempat yang tepat untuk mengadakan studi banding mengenai pengelolaan hutan desa yang berkelanjutan.

Mewakili Asrani yang berhalangan hadir, Franly Oley yang juga mantan kepala desa Merabu menjelaskan bagaimana perkembangan unit usaha di Kampung Merabu menjadi Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). TNC Indonesia sebagai pendamping Kampung Merabu dalam mengelola sumber daya hutannya juga turut memberikan presentasi mengenai Pendekatan SIGAP sebagai aplikasi untuk memudahkan masyarakat juga fasilitator dalam pengelolaan kawasan.  Bapak Ande sebagai wakil Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan mengungkapkan apresiasinya terhadap TNC atas fasilitasi yang telah dilakukan selama ini dalam mendukung Kampung Merabu.

Kampung Merabu memiliki potensi alam yang luar biasa. Dengan luas wilayah administrasi 22.000 hektar atau sekitar 1/3 luas DKI Jakarta dan dihuni oleh 60 kepala keluarga, kampung ini memiliki ekosistem dengan topografis yang mencakup pegunungan karst, sungai, danau, dan hutan hujan tropis yang masih terjaga kelestariannya. Satwa dilindungi seperti orangutan ada disini, begitu pula beragam vegetasi endemik yang menjadi ciri khas kawasan ini. Dengan beberapa lokasi tujuan ekowisata yang menjadi andalan selama ini antara lain Danau air Biru Nyadeng, Goa Beloyot, Goa Ketepu yang banyak di kunjungi wisatawan baik lokal maupun manca negara.

oleh: Ali Mustofa

YKAN

Penulis

YKAN

Informasi Terkait

Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup G-20
MEMERANGI PERBURUAN SATWA ILEGAL
Mengenal Penyu Lebih Jauh

04 January 2019

Mengenal Penyu Lebih Jauh