09 October 2019

Pengembangan Kepariwisataan Berkelanjutan

MERANCANG PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DALAM RANGKA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Kementerian Pariwisat

Oleh: Wahjudi Wardojo, Senior Advisor YKAN|TNC

September menjadi bulan istimewa bagi dunia kepariwisataan. Sejak 1980, tiap 27 September diperingati sebagai hari pariwisata dunia oleh United Nations of World Tourism Organisation (UNWTO). Awal September 2019, Kementerian Pariwisata Indonesia juga baru saja mengumumkan bahwa peringkat indeks daya saing pariwisata Indonesia di dunia naik menjadi peringkat 40. Hal ini berdasarkan laporan The Travel & Tourism Competitiveness Report yang dirilis World Economic Forum (WEF) 2019.

Pencapaian ini berarti Indonesia naik 10 peringkat dalam kurun empat tahun. Industri pariwisata Indonesia memang terus dipicu. Empat tahun terakhir, sektor pariwisata telah menjadi salah satu sektor utama dalam pertumbuhan ekonomi. Penerimaan devisa dari sektor pariwisata terus meroket. Pada 2016, devisa pariwisata mencapai 13,5 miliar dolar AS, hanya kalah dari minyak sawit mentah. Pada 2018, menembus angka 19,29 miliar dolar AS dengan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 15,8 juta dan menyumbang 4,5 persen terhadap PDB Indonesia.

Dirancang dan diharapkan sebagai lokomotif perekonomian Indonesia, industri ini memberi multidampak terhadap multisektor, baik secara positif maupun sebaliknya. Salah satu tantangan utamanya adalah mempertahankan keselarasan perkembangan industri pariwisata dengan sumber daya alam dan budaya. Dua hal inilah yang menjadi modal dasar atau sumber daya utama  industri pariwisata Indonesia. Kerusakan atas sumber daya alam dan sumber daya budaya (natural and cultural resources) berarti menghilangkan modal dasar tersebut. Potensi sumber daya alam dan budaya Indonesia luar biasa. Masing-masing mempunyai keunikan yang tinggi sehingga beberapa lokasi telah memperoleh pengakuan sebagai Kawasan Warisan Dunia-baik alam maupun budaya (Natural or Cultural World Heritage Sites) ataupun Cagar Biosfer (Biosphere Reserves) UNESCO. Sayangnya, Indonesia belum sepenuhnya mengkapitalisasi kawasan-kawasan tersebut sebagai wilayah pariwisata yang bernilai tinggi.

Pemetaan wilayah pembangunan pariwisata

Masih ingat dengan kasus kapal pesiar yang menabrak gugusan terumbu karang di Raja Ampat pada 2017? Kapal pesiar asal Inggris ini meninggalkan kerusakan terumbu karang seluas 18.882 meter persegi. Akhir tahun 2018, sebuah kapal wisata juga dilaporkan membuang jangkar di wilayah perairan dangkal di dekat Kampung Arborek, Raja Ampat, sehingga merusak terumbu karang.

Rusaknya terumbu karang mengganggu ekosistem laut dan keseimbangan pertahanan kawasan pesisir. Terumbu karang mempunyai fungsi dan peran yang sangat signifikan bagi sistem kehidupan manusia, karena terumbu karang dapat mengurangi energi gelombang yang menghantam pantai sebanyak 97 persen, mengurangi risiko erosi, dan abrasi pantai. Kehilangan terumbu karang seluas 1 meter saja, kerusakan yang terjadi bisa mencapai 2 kali lipat.

Kejadian serupa dapat dihindari jika terdapat regulasi yang jelas dalam pemetaan wilayah untuk melayani kebutuhan pariwisata. Pendekatan Development by Desain (DbD) dapat menjadi landasan untuk memilah wilayah yang bisa dibuka untuk kebutuhan pariwisata dan mana yang tidak.

Pendekatan ini berupaya memberikan pandangan holistik tentang pemilahan wilayah yang dinilai sensitif terhadap pengaruh kegiatan manusia (human-induced activities) dan wilayah yang kurang sensitif. Pendekatan ini bisa merancang upaya pembangunan yang lebih baik, khususnya pengaruhnya terhadap sebuah ekosistem serta memberi solusi untuk menjaga keselarasan antara manusia dan alam. Pada intinya DbD mampu mengidentifikasi dampak pembangunan sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan  atau tidak (Kiesecker, et al 2011).

Akumulasi pembangunan kepariwisataan yang tidak terkoordinasi dan direncanakan dengan baik akan membahayakan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Metode Dbd dapat menjadi acuan dalam mengemas dan mengembangkan sebuah kawasan destinasi dengan memerhatikan daya dukungnya.  Hal ini penting agar tidak terjadi kelebihan beban dan pada akhirnya menganggu keseimbangan ekosistem. Tolok ukur daya dukung tidak semata-mata melihat pembatasan total jumlah wisatawan per tahun. Namun, juga melihat pengukuran kontak fisik wisatawan dengan obyek-obyek wisata yang ada, kepuasan wisatawan, dan perilaku penduduk lokal.

Mengunjungi habitat orangutan, misalnya, banyaknya jumlah pengunjung dapat mengubah perilaku orangutan. Terlalu banyak manusia yang berada di dalam satu tempat pun dapat mengancam keseimbangan ekosistem hutan. Atau, pada wilayah dengan kondisi tanah yang secara geologis rentan longsor, sebaiknya tidak dibuka untuk kebutuhan pariwisata.

Tak hanya berlaku di darat, pendekatan DbD juga dapat diterapkan di wilayah perairan. Hal ini penting untuk memberi batasan wilayah perairan yang boleh dilewati kapal-kapal besar, agar kejadian kapal menabrak gugusan terumbu karang bisa dihindari. Di sisi lain, tren wisata kapal pesiar ini pun menimbulkan pertanyaan lain. Memang, wisata kapal pesiar tengah menjadi tren. Namun, apakah benar untuk pariwisata Indonesia?

Menurut UNWTO, sektor pariwisata dapat berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama pada target 8, 12, dan 14. Dalam mencapai pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sektor pariwisata diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan mempromosikan budaya dan hasil produk lokal. Sektor pariwisata juga diharapkan dapat mendukung praktik produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, serta memaksimalkan manfaat ekonomi dari sumber daya kelautan lewat praktik berkelanjutan yang mencakup pengelolaan penangkapan ikan, akuakultur, dan pariwisata.

Sementara itu, sistem live on board dengan menggunakan kapal pesiar meminimalkan interaksi langsung dengan penduduk setempat dan multiplier effect secara  ekonomi terutama bagi penduduk lokal juga kecil. Pasalnya, segala kebutuhan tinggal dan bermalam, makan, minum, maupun hiburan tersedia lengkap di atas kapal. Lain halnya jika pengunjung “dipaksa” bermalam di penginapan setempat, dampak pemerataan ekonomi pada masyarakat sekitar akan lebih terasa.

Pariwisata pada dasarnya sangat tergantung pada lokasinya (site specific). Namun kita  masih sering menemukan pengembangan pariwisata disamaratakan. Misalnya, daerah wisata alam yang pengunjungnya berharap untuk menikmati alam, sering diberi suguhan dengan ingar bingar musik sampai tengah malam. Kepentingan, karakteristik, dan ekspektasi pengunjung atau users harus menjadi salah satu faktor dalam merancang pariwisata.

Adanya peringatan Hari Pariwisata Dunia  menjadi momentum untuk melakukan peninjauan secara holistik terhadap pelaksanaan pariwisata di Indonesia, dimulai dengan perbaikan rancangan yang komprehensif atas tiga elemen utama pariwisata, yaitu resources (natural, cultural maupun infrastruktur), users, dan pengelolaan (termasuk regulasi). Perbaikan tersebut diharapkan akan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kepariwisataan yang mengandung nilai sosial, kultural, politis, dan ekonomis dalam mencapai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan.

YKAN

Penulis

YKAN

Informasi Terkait

TNC Teliti Calon Ibu Kota Baru

02 September 2019

TNC Teliti Calon Ibu Kota Baru

Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup G-20
MEMERANGI PERBURUAN SATWA ILEGAL