Yayasan Konservasi Alam Nusantara

12 December 2018

Hutan Lindung Wehea

Mengenal Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dayak Wehea dalam Menjaga Hutan Lindung Wehea

Lembaga adat Desa Nehas Liah Bing di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur punya cara tersendiri dalam menjaga kawasan hutan. Masyarakat desa yang merupakan Suku Dayak Wehea melakukan pendekatan adat dalam menjaga Hutan Lindung Wehea. Hal ini merupakan sejarah dan pertama kalinya di dunia dimana masyarakat adat terlibat langsung dalam aturan tentang perlindungan hutan dan ekosistemnya. Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektar ini merupakan hasil perjuangan masyarakat adat Dayak Wehea dimana sebelumnya kawasan hutan merupakan wilayah perusahaan yang bergerak di bidang loging. Pada 6 November 2004, kawasan area perusahaan itu kemudian dikukuhkan melalui sumpah Adat Wehea manjadi 'Keldung Laas Wehea Long Sekung Metguen' yang pada saat ini lebih dikenal dengan sebutan Hutan Lindung Wehea. Sejak tahun 2004 pula, tidak ada pembalakan liar di kawasan Hutan Lindung Wehea. Pengukuhan Hutan Lindung Wehea juga tidak terlepas dari lembaga swadaya masyarakat The Nature Conservancy (TNC), pada tahun 2003 mengadakan penelitian terkait dengan kekayaan Hutan Lindung Wehea. Dari penelitian TNC tersebut, di Wehea ada 12 hewan pengerat, 9 jenis primata, 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, dan 59 jenis pohon bernilai. Masih ada sekitar 760 ekor lebih orangutan dengan nama latin Pongo Pygmaeus atau dalam bahasa dayak Wehea disebut Lehje. Demi menjaga ekosistem dan keberlangsungan hidup orangutan, pada tahun 2005, masyarakat dayak Wehea menggelar rapat adat. Dalam rapat adat tersebut muncul kesepakatan untuk membuat petugas penjaga hutan atau dalam bahasa dayak Wehea disebut Petkuq Mehuey (PM). Sebanyak 35 orang yang terdiri dari orang tua dan pemuda Dayak Wehea secara sukarela bersedia menjadi penjaga hutan atau PM.

 

Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur, Kalimantan Timur_1


Saat itu pula, masyarakat Dayak Wehea dan penjaga hutan atau PM membuat aturan adat untuk melindungi hutan. Kepala adat Dayak Wahea, Litdjie Taq mengatakan, sejumlah aturan adat yang disepakati untuk menjaga Hutan Lindung Wehea. "Melindungi Hutan Lindung Wehea, kita gunakan hukum adat, antara lain tidak boleh membuat api, tidak boleh mengambil kayu dan nebang pohon dan membunuh binatang," kata Litdjie Taq saat ditemui Tribunnews, Sabtu (8/12/2018). Hukuman secara adat juga akan menentukan jenis hukuman yang dilakukan. Litdjie Taq menyebut, bagi seseorang yang melakukan pelanggaran yang telah ditetapkan secara adat di kawasan Hutan Lindung Wehea akan di hukum secara adat pula. "Hukuman adat mulai dari teguran keras, dilarang selamanya masuk kawasan Hutan Lindung Wehea hingga denda uang," terangnya. Namun, jika si pelanggar tidak mau mengikuti aturan adat yang telah ditentukan, masyarakat adat siap membawa ke pihak kepolisian. "Kalau sudah kita kasih peringatan masih melawan, kita serahkan ke kepolisian," tambahnya. Kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian itu ternyata mendapat sorotan internasional. Sebanyak 2500 peneliti seluruh dunia berkumpul untuk menilai hutan lindung yang memiliki ekosistem dan penjagaan hutan terbaik di dunia. Terbukti Hutan Lindung Wehea merebut juara III (tiga) dalam penghargaan 'Schooner Prize Award 2008' di Vancouver, Kanada. Penghargaan berhadiah 1.000 dollar Amerika Serikat itu sebagai bentuk pengakuan bahwa model pengelolaan konservasi Hutan Wehea dinilai sangat adaptif dan sesuai perkembangan zaman sehingga menduduki peringkat hutan terbaik ketiga di dunia.

 

Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur, Kalimantan Timur_2

Sederet juara itu yakni Taman Laut Masyarakat Arnavon di Pulau Solomon meraih juara I, Proyek II Bolivia Forest di Bolivia juara II, Pengelolaan Hutan Wehea juara III, dan Masyarakat Pengelola Hutan Berkelanjutan oleh Suku Maya (Meksiko) juara IV. Mencuatnya nama Hutan Lindung Wehea turut membuat para peneliti di seluruh dunia penasaran. Sejumlah peneliti berbondong-bondong masuk dan melakukan penelitian di kawasan hutan Lindung Wehea. Masuknya Hutan Lindung Wehea sebagai juara tiga di dunia juga sempat membuat Litdjie Taq tak percaya. Pasalnya, ia menyebut bagaimana pengelolaan hutan lindung di Malaysia jauh lebih baik dari Indonesia saat itu. "Menurut mereka yang datang yang menyebabkan itu (Hutan Lindung Wehea juara 3 dunia) karena di tempat kita unik. Biasanya hutan lindung itu dilindungi negara dan pemerintah setempat, sementara Hutan Lindung Wehea dilindung oleh hukum adat," ungkap Litdjie Taq. Litdjie Taq juga bercerita bagaimana orang di luar negeri justru lebih tahu dan penasaran soal kearifan lokal masyarakat adat Dayak Wehea dalam menjaga Hutan Lindung Wehea. Ia menyebut orang Indonesia justru tidak tahu informasi soal kekayaan alam Hutan Wehea dan kearifan masyarakat lokal menjaga hutan. Meski begitu, Litdjie Taq percaya jika Hutan Lindung Wehea terus dijaga akan membawa manfaat yang besar bagi masyarakat adat dayak Wehea dan masyatakat Indonesia secara luas. "Hutan itu diibaratkan sebagai lumbung kehidupan. Di hutan kita mendapat banyak sekali mata pencarian misalnya kita mendapat daging, bahan obat-obatan termasuk juga bahan bangunan," kata Litdjie Taq "Lebih dari itu, hutan sebagai penyeimbang ekosistem antara manusia dan alam," sambungnya. Ditengah himpitan dan ancaman perusahaan loging dan kelapa sawit, hingga saat ini, Masyarakat Adat Dayak Wehea terus menjaga kearifan lokal dalam menjaga ekosistem flora dan fauna di Hutan Lindung Wehea. Perjalanan ke Desa adat Nehas Liah Bing dan Hutan Lindung Wehea merupakan rangkaian kegiatan Ekspedisi Cerita dari Hutan yang digelar oleh Hutan Itu Indonesia (HII) sejak 6-10 Desember 2018. Ekspedisi Cerita dari Hutan itu merupakan upaya HII untuk menyebarkan cerita positif tentang pelestarian dan perlindungan hutan di Indonesia.



Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mengenal Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dayak Wehea dalam Menjaga Hutan Lindung Wehea, http://www.tribunnews.com/regional/2018/12/12/mengenal-kearifan-lokal-masyarakat-adat-dayak-wehea-dalam-menjaga-hutan-lindung?page=all.
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Dewi Agustina

YKAN

Penulis

YKAN

Informasi Terkait

Kondisi Terumbu Karang

30 January 2019

Kondisi Terumbu Karang

PALM OIL: LESS STRIFE, MORE SOLUTIONS
Aplikasi Pengelolaan Ikan Tangkap