a
@a
a
@a
a
@a
a
@YKAN
a
@YKAN

Mitra MERA


Djarum Foundation telah menandatangani kerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk restorasi pesisir Semarang dan Jakarta di Semarang, Kamis (20/6/2019). Hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah Sri Puryono, Ketua YKAN Rizal Algamar, Chief Operating Officer (COO) PT Djarum Victor Hartono, dan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ahmad Munawir.

Sekitar 1,2 juta hektare (ha) hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak parah atau kritis. Kondisi tersebut juga terjadi di pesisir Provinsi Jawa Tengah, termasuk Teluk Semarang. Untuk itu, perlu upaya pencegahan dan menata kembali kawasan mangrove sebagai bagian dari upaya restorasi pesisir secara menyeluruh.  Perbaikan ekosistem mangrove dalam memulihkan potensi dan kekayaan pesisir pantai melibatkan banyak pihak. 

Chief Operating Officer (COO) PT Djarum Victor Hartono mengatakan pihaknya mendorong pemulihan mangrove untuk menjaga ekosistem dan mengurangi emisi karbon. Kesadaran pemulihan mangrove sudah dimulai sejak tahun 1999 di Pantai Mangunharjo, Mangkang Semarang. Upaya penanaman itu terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat setempat.

“Kami mempunyai perhatian pada konservasi pesisir dan mencegah dampak perubahan iklim secara global. Salah satunya melalui pemulihan kawasan mangrove yang terus meluas setiap tahun,” jelasnya.


“Kami sangat senang dan bangga dapat bermitra dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan KLHK dalam program restorasi dan konservasi hutan mangrove. Upaya perlindungan lingkungan hidup merupakan salah satu nilai Perusahaan yang telah kami laksanakan dimana pun kami beroperasi di seluruh dunia. Sebelumnya, sejak tahun 2003, kami berpartisipasi dalam restorasi dan pelestarian hutan mangrove di Penajam, Kalimantan Timur. Kali ini, melalui MERA, kami bermaksud mereplikasi keberhasilan proyek percontohan di Teluk Jakarta untuk diimplementasikan di daerah operasi kami di Riau. Kami berharap kemitraan dalam aliansi MERA dapat berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, atau UN SDG.” Wahyu Budiarto, Senior Vice President Policy, Government and Public Affairs Chevron Indonesia


Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas menandatangani perjanjian untuk bergabung dalam Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) guna mendukung konservasi dan pemulihan ekosistem bakau di teritorial Indonesia.

"Keputusan kami untuk terlibat dalam MERA ini tidak hanya untuk berkontribusi melindungi pelestarian ekosistem penting. Inisiatif ini juga kami anggap sangat penting karena selaras dengan visi keberlanjutan kami.” Direktur Sustainability & Stakeholder Engagement APP Sinar Mas Elim Sritaba


Penandatangan dukungan terhadap MERA telah diberikan oleh PT. Indofood Sukses Makmur pada kegiatan Our Ocean Conference di Bali, pada tanggal 30 Oktober 2018, bersamaan dengan ajang Our Ocean Conference yang diselenggarakan pada 29-30 Oktober di Bali, Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) menyelenggarakan diskusi tentang pengelolaan ekosistem mangrove secara kolaboratif di Indonesia. Hadir dalam kegiatan ini perwakilan pemerintah dan perusahaan swasta yang telah menjadi mitra dalam aliansi ini. Diskusi ini ditutup dengan penandatanganan dukungan terhadap MERA yang diberikan oleh PT. Indofood Sukses Makmur.


YKAN Jalin Kerjasama dengan Ataya Travel Solution Lestarikan Hutan Mangrove. Acara penandatanganan kerjasama dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus YKAN, Rizal Algamar dan CEO & Founder Ataya Travel Solution, Miko Pudji Utomo. Kerjasama ini dilatarbelakangi oleh kepedulian Ataya Travel Solution terhadap keberadaan hutan mangrove di Indonesia.  Bentuk kerjasama ini berupa penyisihan dana dari setiap paket liburan Ataya Travel Solution kepada YKAN untuk mendorong program MERA (Mangrove Ecosystem Restoration Alliance) di Muara Angke. “Kami merasa upaya merestorasi dan melestarikan alam tidak seharusnya dibatasi dengan jenis usaha yang dilakukan oleh pelakunya.” ujar Miko. Menurut Miko, misi konservasi alam tidak sebatas tugas yang harus dijalankan oleh organisasi yang bersinggungan dengan alam atau yayasan konservasi semata. Dibutuhkan usaha dan komitmen untuk membangun kembali dan merawat alam.